Perihal Depresi
Meninggalnya Jonghyun SHINee, artis korea yang meninggal bunuh diri beberapa hari yang lalu sempat jadi menu utama perbincangan. Gue pribadi sebenarnya gak tau siapa orang ini, bahkan gue memang kurang tertarik dengan berbagai macam seni dari korea baik itu lagu maupun drama korea. Tapi meninggalnya artis ini membuat gue ikut-ikutan memperbincangkan perihal alasan dia mengakhiri hidupnya.
Alasan yang paling valid saat ini ialah Jonghyun bunuh diri karena DEPRESI. Bukti yang didapatkan berupa surat yang ia kirimkan ke kakaknya juga perihal tekanan dari pihak management. Dari kejadian ini, banyak orang yang mulai membicarakan perihal depresi.
Di salah satu twit lembaga belajar juga sempat membahas hal ini, bahwa orang yang depresi itu bukan tidak mau terlihat ceria dan baik-baik saja. Mereka mengalami perubahan struktur otak yang menyebabkan mereka jadi terus terlihat murung.
Gue pribadi akhirnya melihat sisi yang berbeda dari meninggalnya artis korea itu. Bahwa akhirnya masyarakat Indonesia atau bahkan dunia jadi peduli terhadap penyakit mental. Penyakit mental bukan selalunya tentang gila, tidak waras, tidak mengenali diri sendiri, tapi depresi pun juga menjadi penyakit mental yang berbahaya karena penderitanya bahkan berani mengakhiri hidupnya.
![]() |
| Sumber: Mbah Gugel |
"Setiap orang punya masalah. Yang membedakan adalah bagaimana cara orang tersebut menghadapinya" atau, "Bismillah. Masih ada Allah yang jauh lebih besar dari masalah itu". Itu prinsip gue, dulu. Setiap orang yang menceritakan masalah yang bagi dia sangat besar dan cukup mengganggu dirinya, gue sering mengucapkan kalimat itu. Bermaksud menguatkan bila tidak mampu membantu secara langsung. Terlebih bila masalah yang dihadapi temen gue ini bagi gue pribadi adalah masalah yang tidak terlalu besar. Contohnya, masalah percintaan dimana si pasangan (pacar) mengkhianati. Gue sering banget bahkan ketawa kalau ada yang cerita soal ini. Akhirnya, sejak meninggalnya Jonghyun gue jadi mawas diri. Bahwa masalah yang kita anggap kecil, belum tentu dianggap kecil bagi orang lain.
Bahwa ada hal yang membutuhkan campur tangan manusia. Orang yang depresi adalah mereka yang tidak menemukan satu orang pun untuk diajak bicara, tidak menemukan satu orang pun yang dirasa memiliki kepedulian terhadapnya, hingga dia merasa bahwa tanpa ada dia di dunia ini, tidak akan ada yang merasa ditinggalkan.
Selain bercerita dengan Tuhan, kita juga butuh untuk bercerita dengan orang yang kita percaya. Mampu memberikan pelukan disaat kita sedang sesenggukan, yang mampu mendengarkan keluh kesah kita, mampu memperlihatkan kepada kita bahwa kita berharga, kita masih diharapkan di dunia ini, dan bahwa masih banyak mimpi yang belum terealisasi.
Mulai hari ini gue belajar untuk peduli ketika melihat status orang di sosial media. Gue akui, gue sering menertawakan orang yang memperlihatkan dirinya sedang dalam masalah. Berpikir bahwa untuk apa memberitahu orang bahwa kita sedang dalam masalah. Saat ini, gue akan belajar untuk mengerti bahwa masalah adalah masalah. Sesuatu yang ada di hati, harus segera di luapkan. Segala hal-hal negatif harus segera di buang jauh. Karena saat orang yang depresi mencari seseorang untuk diajak bicara, itu adalah bentuk perlawanan dirinya terhadap depresi itu sendiri.
Dan gue juga akan melakukan hal yang sama. Gue akan mulai menceritakan hal-hal yang mengganjal di hati. Gue akan mencoba untuk melihat sekitar gue. Bahwa gue harus yakin, masih ada mereka yang peduli. Masih ada mereka yang mau mendengarkan keluh kesah gue. Masih ada yang mau menghabiskan waktu senggangnya untuk celotehan gue.
Alasannya sederhana. Karena Depresi itu penyakit. Sama seperti tubuh, jiwa bisa sakit dan harus tepat penanganannya. Contohnya, datang ke psikiater. Toh kalau kulit lu bermasalah, lu akan datang ke Spesialis Kulit dan Kelamin. Santai aja. Lu bukan sakit sipilis atau sejenisnya, lu sakit kulit dan itu beda penangannya. Sama seperti ke psikiater. Lu gak harus gila dulu baru ke psikiater. Atau, perhatikan sekitar. Diantara 100 orang yang lu kenal, pasti ada satu atau dua orang yang siap mendengarkan keluh kesah lu. Bukan untuk dibagiin lagi ke yang lain, tapi untuk jadi tempat saling bertukar pikiran dan cerita.
Karena, setiap orang berharga, dan bunuh diri bukan jalan keluarnya.

Comments
Post a Comment