Jadi Judulnya

Pernikahan.

Sebuah kata baru yang semakin lama semakin jadi hal lumrah untuk telinga saya. Pernikahan dengan segala janji yang Tuhan sampaikan nyatanya masih menjadi pertimbangan untuk saya. Padahal? Tidak perlu diragukan lagi jika Tuhan lah yang berjanji. Bukankah pengharapan paling baik adalah pengharapan pada Tuhamu sendiri?

Selama perjalanan saya berteman dengan berbagai usia, melihat berbagai realita yang terjadi, nyatanya menikah memang bukan sembarangan. Ada banyak hal yang harus sama-sama dipertimbangkan sebelum dua sejoli melangkah ke jenjang yang lebih jauh lagi.

Bukan berarti saya berada di pihak yang melegalkan hubungan tidak halal karena terkesan banyak alasan dan berbelit-belit ketika diminta pendapat saya perihal pernikahan. Bukan.

Itu karena,
Ada orang yang menikah karena desakan usia. Merasa di batas usia tertentu lah dia sudah seharusnya memiliki teman hidup. Memaksakan ketentuan yang sudah Tuhan siapkan. Padahal, mungkin saja, bersabar satu atau dua bulan lagi dirimu akan dipertemukan dengan dia. Saking terkejar deadline umur, ia bahkan tidak mempertimbangkan berbagai hal. Yang penting, "Ya udah lah, mumpung ada yang mau". Hm... menarik.

Ada pula orang yang menikah karena ternyata ia belum sembuh dari seseorang di masa lalunya. Ia ingin menunjukan bahwa dirinya sudah bisa melangkah dengan orang lain. Seharusnya yang pertama kali dia lakukan sebelum berani melangkah dengan orang lain ialah berdamai dengan masa lalunya. Berdamai dengan semua rasa kecewa dan amarah yang masih di rasa. Pernahkah membayangkan bila si pasangan menyadari bahwa dirimu ternyata masih menyimpan "rasa" pada orang lain padahal dirimu sudah berani mengajaknya untuk lebih jauh lagi?

Ada yang menikah karena desakan lingkungan. Semua teman-teman dekatnya sudah memiliki pasangan. Jadilah ia bahan bercandaan dan tertawaan di teman-temannya. Seakan-akan masih sendiri adalah satu hal yang amat sangat memalukan. Bukankah setiap orang punya waktunya masing-masing? Mungkin saat ini memang bukan waktu si dia untuk menikah. Karena bosan menjadi bahan ledekan lingkungan, ia lebih memilih untuk mundur dari lingkungan tersebut. Menyendiri. Tapi itu masih jauh lebih baik ketimbang ia malah terburu-buru menentukan keputusan yang akan berdampak pada masa depannya nanti.

Ada yang menikah karena paksaan orang tua. Kasarnya, uhuk, dijodohkan. Wah ini complicated. Bagi saya pribadi, berbakti pada orang tua itu memang hal utama, tapi kita tidak pernah tau apa yang terjadi di masa depan. Bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, akankah kita berani "menyalahkan" orang tua? Yahh nanti dosa. Tapi kan semua ini terjadi karena berawal dari paksaan si ortu. Yah kan dosa lagi. Lah kalau menentang bukannya lebih dosa lagi? Setidaknya kawan, kamu akan belajar apa arti bertanggungjawab pada pilihanmu sendiri. Jika pada akhirnya terjadi sesuatu yang tidak diharapkan, setidaknya tidak ada pihak lain yang secara tidak langsung kau salahkan.

Bayangkan ketika kita harus memulai hari baru dengan seseorang yang baru. Menjalani segala hal yang diawali dengan, "Ya mau gimana lagi, kewajiban", dengan iming-iming, "Perasaan itu bisa tumbuh kok nak". Iya. Percaya kok bisa tumbuh. Tapi entah kapan. Mungkin 100 tahun lagi atau lebih gilanya ya gak tumbuh-tumbuh. Jadilah hari-hari kita dilakukan dengan dasar "ibadah" dan "kewajiban". Tidak ada hati yang bermain di dalamnya. Ini creepy si. Siti Nurbaya aja stress dijodohin, lah gimana anak millenial.

Jadi, lebih baik "Cinta tanpa Pernikahan" atau "Pernikahan tanpa Cinta"?

Lah.

Emang cinta penting?

Nyatanya hadiah terindah dari orang tua ke anak-anak mereka adalah ketika mengetahui bahwa orang tuanya saling jatuh cinta dan tetap cinta hingga kini. Kenapa? Karena saya pernah mendapatkan suatu cerita dimana ketika dia menanyakan ke mamanya kenapa memilih menikah dengan sang ayah, jawaban dari mamanya, "Entah. Sampai sekarang aja mama gak tau kenapa mama bisa menikah sama ayah kamu". Dia menceritakan ke saya sambil menangis. Entah itu sebuah guyonan dari mamanya atau bukan, tapi saat ayahnya harus kerja ke luar kota selama beberapa waktu, mamanya bertemu kembali dengan seseorang yang dia sebut mantannya saat masih sekolah. Dibawanya ke rumah pula. Waktu itu, teman saya makin terpuruk. Menangis sejadi-jadinya.

Pentingkah sebuah perasaan itu?

Hm...

Ada lagi?

Sekarang, bagaimana dengan kepribadian pasangan?

Bagaimana kita bisa memastikan bahwa dia adalah orang yang tepat?

Saya juga bukannya tidak mendukung ta'aruf. Mungkin pemahaman saya perihal itu saja yang belum benar.

Tapi bagi saya, mengenal sifat asli pasangan sebelum menikah adalah hal terpenting. Saya harus tau bagaimana perangainya saat dimana ia sedang unmood, marah, panik, kesal, lalu bisakah saya menghadapinya ketika ia sedang seperti yang saya sebutkan sebelumnya? Bila merasa tidak sanggup, semoga saya merasakannya sebelum saya memutuskan untuk melangkah.

Selain sifat asli? Kesamaan visi misi, pemerimaan pola pikir masing-masing, dan komunikasi serta frekuensi yang sama. Ah terlalu banyak pertimbangan kau nak. Biarkan saja. Kan modal untuk mendidik keturunan dengan pola asuh yang sama. Misalnya, kamu lebih condong menginginkan anakmu punya pengalaman sekolah asrama minimal 3 tahun, eh ternyata si dia gak mau kalau anaknya asramaan. Wah repot nih. Ya itu si contoh doang. Atau pada saat sudah renta nanti, komunikasi ini penting sekali. Karena ketika kita sudah tidak sanggup melakukan berbagai hal, yang amat sangat mungkin dilakukan ialah duduk bersama, bercengkrama, membicarakan berbagai hal, dan menceritakan ulang hal-hal yang pernah dilalui bersama.

Bagaimana dengan kekurangan dari masing-masing pasangan? Kekurangan saya dan dia. Bisakah kedua orang ini saling menerima kekurangan masing-masing? Bisakah mereka saling menguatkan dan percaya akan pertolongan Tuhan nantinya? Bisakah kedua orang ini yakin meletakkan hatinya pada masing-masing?

Lalu lebih lanjut? Keluarga inti.

Bisakah keluarga besar (Keluarga besar kamu dan dia) saling menerima dengan baik?

Bisakah?

Karena hidup bersama pasangan jauh lebih lama daripada hidup bersama orang tua. Maka, apa salahnya memiliki banyak pertimbangan?

Satu hal yang sering dilupa. Jodoh itu belum pasti akan datang atau tidak.

Tapi maut, itu mutlak.

Comments

Popular posts from this blog

[REVIEW] Andai Engkau Tahu

[REVIEW] Ya Rabb, Aku Galau

Ada Planning Resensi 2 Novel Nih